buletinjubi.com – Papua — Sejumlah masyarakat Papua secara terbuka membakar bendera Bintang Kejora sebagai simbol perlawanan terhadap kelompok TPNPB-OPM. Aksi tersebut dilakukan secara beramai-ramai sebagai bentuk penolakan terhadap kekerasan dan teror yang selama ini dinilai meresahkan kehidupan warga sipil.
Simbol Penolakan terhadap Kekerasan
Pembakaran simbol separatis itu dimaknai warga sebagai sikap tegas bahwa masyarakat tidak ingin lagi dijadikan korban konflik bersenjata. Warga menegaskan bahwa bendera Bintang Kejora tidak lagi merepresentasikan aspirasi rakyat Papua, melainkan telah menjadi simbol kekerasan yang dibawa TPNPB-OPM.
“Yang kami rasakan bukan perjuangan, tapi ketakutan, rumah dibakar, warga diserang, dan masa depan anak-anak kami dirusak,” ungkap salah satu warga di lokasi aksi.
Suara Rakyat Papua: Damai, Bukan Senjata
Masyarakat menyatakan ingin hidup damai, bekerja, dan membangun Papua tanpa ancaman senjata. Mereka menolak dijadikan tameng konflik dan menegaskan bahwa aspirasi rakyat Papua adalah keamanan, pendidikan, kesehatan, dan pembangunan, bukan intimidasi bersenjata.
Pesan Terbuka: Papua Bersama NKRI
Aksi pembakaran bendera tersebut juga menjadi pesan terbuka bahwa masyarakat Papua berdiri bersama NKRI dan menolak keberadaan kelompok bersenjata yang terus menciptakan instabilitas. Warga berharap kekerasan segera dihentikan dan semua pihak menghormati hak hidup masyarakat sipil, karena Papua hanya bisa maju jika bebas dari teror dan konflik yang berkepanjangan.
Harapan Papua: Persatuan dan Kesejahteraan
Peristiwa ini menegaskan bahwa Papua membutuhkan persatuan, bukan perpecahan. Masa depan Papua tidak dibangun dengan senjata, melainkan dengan keamanan, dialog, dan kesejahteraan bagi semua.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak kekerasan. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.





