Darah Warga Sipil Yahukimo di Tangan TPNPB-OPM Kodap XVI: Kekerasan Brutal yang Tak Bisa Lagi Ditutupi

buletinjubi.com – Yahukimo, Papua Pegunungan — Rangkaian kematian dan luka warga sipil di Kabupaten Yahukimo selama lima tahun terakhir menjadi bukti nyata bahwa TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo telah berubah menjadi ancaman langsung bagi rakyat Papua sendiri. Di balik narasi perjuangan yang terus dikumandangkan, kelompok ini meninggalkan jejak darah di kampung, jalan umum, dan ruang hidup warga sipil yang tak bersenjata, termasuk perempuan dan anak-anak.

Pola Kekerasan Sistematis

Penembakan, mutilasi, peledakan bom rakitan, hingga intimidasi brutal di wilayah sipil menunjukkan pola kekerasan sistematis yang tidak dapat lagi disangkal. Fakta di lapangan memperlihatkan bahwa banyak korban tewas dan luka jatuh di area yang dikuasai TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo, dengan metode kekerasan khas kelompok bersenjata ilegal. Klaim sepihak yang menyalahkan pihak lain dinilai sebagai upaya cuci tangan atas kejahatan kemanusiaan yang mereka lakukan sendiri.

Suara Masyarakat: Marah dan Lelah

Masyarakat Yahukimo menyatakan kemarahan dan kelelahan atas teror berkepanjangan ini. “Yang mati itu orang kampung kami, bukan tentara. Yang menderita itu mama-mama dan anak-anak Papua,” ujar seorang tokoh masyarakat dengan nada geram. Warga menegaskan bahwa TPNPB-OPM Kodap XVI tidak lagi membawa perjuangan, melainkan kehancuran.

Pengkhianatan terhadap Orang Papua

Kekerasan terhadap rakyat sendiri dinilai sebagai pengkhianatan terbesar terhadap orang Papua. Alih-alih memperjuangkan hak-hak masyarakat, aksi bersenjata justru memperdalam luka, memperluas trauma, dan menghancurkan tatanan sosial. Masyarakat menilai bahwa kelompok ini telah kehilangan legitimasi moral karena menjadikan rakyat sipil sebagai korban utama.

Penolakan Terbuka terhadap Kehadiran TPNPB-OPM

Masyarakat Yahukimo kini dengan tegas menolak kehadiran TPNPB-OPM Kodap XVI. Mereka menyerukan agar wilayah sipil dijauhkan dari segala bentuk kekerasan, dan agar aparat bersama pemerintah memastikan perlindungan nyata bagi warga. Penolakan ini menjadi suara moral yang menegaskan bahwa Papua membutuhkan kedamaian, bukan teror.

Harapan Papua: Damai dan Aman untuk Semua

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa Papua hanya bisa maju melalui persatuan, pembangunan, dan rasa aman. Kekerasan tidak pernah membawa solusi, sementara perdamaian membuka jalan menuju kesejahteraan generasi mendatang.

Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak kekerasan. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.