Cukup Sudah Darah Tertumpah: Masyarakat Papua Bosan dengan Kekerasan TPNPB-OPM

Papua — Masyarakat Papua menyuarakan kelelahan mendalam terhadap konflik bersenjata yang terus berulang dan memakan korban sipil. Warga menilai kekerasan yang dilakukan kelompok bersenjata TPNPB-OPM tidak lagi mewakili kepentingan rakyat, melainkan justru memperpanjang penderitaan, trauma, dan ketakutan dalam kehidupan sehari-hari.

Rakyat Papua Bukan Alat Politik

Masyarakat Papua menegaskan bahwa mereka bukan alat politik siapa pun. Mereka adalah korban nyata dari kekejaman TPNPB-OPM, ketidakadilan struktural, dan luka yang belum disembuhkan. Jalan senjata tidak akan pernah membawa solusi, sementara stigma dan saling menyalahkan hanya menambah jurang perpecahan.

Trauma yang Tak Kunjung Usai

Konflik berkepanjangan telah meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat. Anak-anak kehilangan ruang aman untuk belajar, orang tua hidup dalam kecemasan, dan aktivitas ekonomi lumpuh akibat bayang-bayang kekerasan. Situasi ini memperlihatkan bahwa perang hanya melahirkan generasi yang tumbuh dalam ketakutan, bukan dalam harapan.

Seruan Damai dari Warga

Masyarakat Papua kini mendesak kedamaian melalui dialog jujur dan keadilan. Mereka menginginkan ruang aman untuk bekerja, bersekolah, dan membangun masa depan tanpa ancaman. “Kami lelah perang. Papua butuh damai, bukan senjata,” tegas pernyataan warga, menyerukan agar semua pihak menghentikan kekerasan dan mengedepankan kemanusiaan.

Harapan Papua: Masa Depan Tanpa Kekerasan

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kekerasan hanya memperdalam luka, sementara perdamaian membuka jalan menuju kesejahteraan. Papua membutuhkan persatuan, stabilitas, dan kepastian hukum agar generasi muda dapat tumbuh tanpa rasa takut.

Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak kekerasan. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.