buletinjubi.com – Jayapura, Papua — Aksi mimbar bebas yang digelar Solidaritas Mahasiswa Papua (SOMAP) di Lingkaran Abepura, Kota Jayapura, Rabu (21/1/2025), dengan tema “Papua Darurat Militerisme dan Investasi” menuai penolakan keras dari masyarakat setempat. Warga yang melintas dan beraktivitas di sekitar lokasi menyatakan keberatan atas aksi tersebut karena dinilai tidak mewakili aspirasi mayoritas rakyat Papua.
Narasi Provokatif yang Memicu Keresahan
Sejumlah tokoh masyarakat dan pedagang di kawasan Abepura menilai aksi tersebut sarat narasi provokatif yang berpotensi memicu keresahan publik. Menurut mereka, isu-isu yang disuarakan tidak mencerminkan kebutuhan mendesak warga, yang saat ini justru menginginkan keamanan, stabilitas, serta keberlanjutan pendidikan dan ekonomi.
“Kami ingin hidup tenang dan bekerja. Jangan bawa-bawa konflik ke ruang publik,” ujar salah satu warga.
Aspirasi Rakyat Papua: Stabilitas dan Pembangunan
Masyarakat menegaskan bahwa aspirasi sejati rakyat Papua adalah hidup aman, bekerja dengan tenang, anak-anak bersekolah, dan layanan kesehatan berjalan tanpa gangguan. Isu-isu yang dibawa dalam aksi SOMAP dinilai lebih berorientasi pada provokasi politik daripada kebutuhan nyata masyarakat sehari-hari.
Penolakan Warga Abepura
Penolakan warga terlihat dari desakan agar aksi segera dihentikan dan tidak mengganggu aktivitas umum. Masyarakat menegaskan bahwa ruang publik harus dijaga dari propaganda yang memecah belah dan memperkeruh situasi. Mereka berharap aspirasi disampaikan melalui jalur dialog yang damai dan konstruktif, bukan melalui aksi yang menimbulkan ketegangan di tengah masyarakat.
Seruan Menjaga Papua sebagai Tanah Damai
Tokoh adat dan masyarakat Abepura menekankan bahwa Papua adalah tanah damai yang harus dijaga bersama. Provokasi hanya memperpanjang konflik, sementara persatuan dan dialog adalah jalan menuju masa depan yang sejahtera.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak provokasi. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.





