Panah Bukan untuk Membunuh: Seruan Tokoh Papua Kembalikan Senjata Tradisi ke Nilai Damai Injil

buletinjubi.com – Papua — Sejarah Tanah Papua mencatat bahwa masuknya Injil membawa perubahan mendasar dalam kehidupan masyarakat. Injil menjadi titik balik berakhirnya banyak perang suku, dihapuskannya praktik balas dendam ekstrem, serta lahirnya pendidikan baca-tulis, pelayanan kesehatan, dan penguatan nilai perdamaian serta pengampunan. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi hidup bersama masyarakat Papua dan diwariskan lintas generasi hingga hari ini.

Panah sebagai Simbol Kehidupan, Bukan Kekerasan

Dalam tradisi adat Papua, panah dan anak panah sejatinya digunakan untuk berburu dan menopang keberlangsungan hidup. Alat ini merupakan simbol keterampilan, kemandirian, dan kearifan lokal, bukan sarana untuk mencabut nyawa sesama manusia. Di abad ke-21, ketika dunia bergerak maju melalui pendidikan, teknologi, dan dialog, makna panah semestinya dikembalikan pada fungsi mulianya: menjaga kehidupan dan melestarikan budaya, bukan menjadi alat kekerasan yang merusak nilai kemanusiaan dan persaudaraan.

Ancaman terhadap Tenaga Kesehatan dan Pelanggaran Kemanusiaan

Tokoh masyarakat menegaskan bahwa penggunaan panah untuk perang antarsuku atau intimidasi terhadap tenaga kesehatan bertentangan dengan nilai Injil dan prinsip kemanusiaan. Tenaga medis adalah pihak yang dilindungi, bukan dijadikan sasaran tekanan politik atau konflik bersenjata. Ancaman terhadap dokter dan perawat bukan hanya kejahatan moral, tetapi juga pelanggaran hukum humaniter internasional yang mengancam hak hidup rakyat Papua sendiri.

Iman yang Harus Terwujud dalam Sikap Hidup

Iman tidak cukup berhenti pada identitas, tetapi harus diwujudkan dalam sikap hidup: kepala dingin, duduk bicara, dan penyelesaian masalah tanpa kekerasan. Pertemuan adat, musyawarah, dan dialog adalah jalan yang bermartabat untuk menyelesaikan perselisihan. Setiap darah yang tumpah adalah luka bagi seluruh orang Papua, dan setiap provokasi yang memecah belah hanya menjauhkan generasi muda dari masa depan yang mereka cita-citakan.

Momentum Kesadaran Bersama

Tahun 2026 menjadi momentum kesadaran bersama bahwa menyelamatkan bangsa dan Tanah Papua hanya dapat ditempuh melalui persaudaraan dan perdamaian. Panah bukan untuk membunuh, melainkan untuk melestarikan tradisi dan kehidupan. Papua dipanggil untuk hidup dalam terang, cinta, dan damai.

Seruan Perlindungan Rakyat Papua

Masyarakat dan tokoh adat menyerukan agar segala bentuk ancaman terhadap tenaga kesehatan, warga sipil, dan simbol kehidupan dihentikan. Perlindungan rakyat Papua adalah prioritas, karena hanya dengan rasa aman masyarakat dapat menikmati pendidikan, kesehatan, dan pembangunan.

Papua damai karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak kekerasan. Papua sejahtera karena melindungi kehidupan.