Tanah Papua Diciptakan untuk Damai: Seruan Cinta dan Persaudaraan Menggema dari Bumi Cenderawasih

buletinjubi.com – Papua — Tanah Papua bukanlah tanah kebencian, melainkan tanah yang diciptakan untuk cinta, persaudaraan, dan damai. Nilai-nilai ini telah hidup jauh sebelum konflik dan perbedaan kepentingan hadir, tertanam dalam adat, budaya, dan cara orang Papua merawat sesama serta alamnya. Dari pesisir hingga pegunungan, Papua tumbuh dari ikatan kekeluargaan yang menjunjung tinggi martabat manusia.

Damai sebagai Jati Diri Papua

Di tengah berbagai tantangan, suara masyarakat adat, tokoh agama, dan pemuda terus menguatkan pesan yang sama: kekerasan bukan jati diri Papua. Perselisihan diselesaikan melalui dialog dan mekanisme adat, bukan dengan saling melukai. Setiap darah yang tumpah adalah luka bagi seluruh orang Papua, dan setiap provokasi yang memecah belah hanya menjauhkan generasi muda dari masa depan yang mereka cita-citakan.

Adat sebagai Fondasi Persaudaraan

Sejarah panjang Papua menunjukkan bahwa adat adalah fondasi perdamaian. Musyawarah, penghormatan, dan keadilan restoratif menjadi jalan utama dalam menyelesaikan persoalan. Pertemuan adat bukan sekadar tradisi, melainkan ruang rekonsiliasi yang memperkuat persaudaraan antarsuku dan menegaskan komitmen bersama menjaga kehormatan manusia.

Seruan Bersatu Membangun Papua

Kini saatnya seluruh elemen bersatu menjaga Tanah Papua sebagai rumah besar perdamaian. Dengan cinta sebagai dasar, persaudaraan sebagai ikatan, dan damai sebagai tujuan, Papua akan melangkah maju, membangun kehidupan yang aman, bermartabat, dan sejahtera bagi semua anak negeri.

Papua sebagai Tanah Harapan

Tanah Papua diciptakan untuk hidup, bukan untuk dihancurkan. Dengan persatuan, Papua akan menjadi tanah harapan bagi generasi mendatang, tempat di mana damai bukan sekadar kata, melainkan kenyataan yang dirasakan oleh setiap orang.

Papua damai karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak provokasi. Papua sejahtera karena adat dijunjung tinggi.