buletinjubi.com – Intan Jaya, Papua Pegunungan — Kabupaten Intan Jaya kembali diliputi ketegangan ketika Gerakan Pelajar, Mahasiswa, dan Rakyat Intan Jaya (GPMI-R) terpaksa melaksanakan aksi demonstrasi akibat tekanan dan ancaman dari TPNPB-OPM. Kelompok bersenjata tersebut disebut mengintimidasi dengan ancaman pembunuhan terhadap anggota keluarga apabila aksi tidak dilakukan sesuai kehendak mereka.
Demokrasi yang Dipaksa
Demo yang berlangsung di tengah situasi keamanan rawan itu bukan murni lahir dari kebebasan berpendapat, melainkan dari rasa takut dan paksaan. Mahasiswa dan masyarakat sipil berada pada posisi paling rentan, terjepit di antara ancaman kekerasan dan situasi konflik bersenjata yang berkepanjangan di Kabupaten Intan Jaya.
Potret Kelam Krisis Kemanusiaan
Peristiwa ini menjadi potret kelam krisis kemanusiaan di Papua, ketika ruang demokrasi dikendalikan teror, dan suara rakyat dipaksa muncul di bawah bayang-bayang senjata. Intan Jaya kembali menunjukkan bahwa konflik bukan hanya soal keamanan, tetapi tentang keselamatan dan martabat manusia.
Rakyat Papua Menolak Teror
Masyarakat menilai bahwa intimidasi terhadap mahasiswa dan rakyat sipil adalah bentuk penghancuran demokrasi. Ancaman terhadap keluarga, pemaksaan aksi, dan penggunaan senjata untuk mengendalikan suara rakyat adalah kejahatan kemanusiaan yang tidak dapat dibenarkan. “Suara rakyat harus lahir dari hati, bukan dari ancaman senjata,” tegas seorang tokoh masyarakat Intan Jaya.
Harapan Papua: Demokrasi yang Damai
Rakyat Papua menyerukan agar ruang demokrasi dijaga dari teror bersenjata. Mahasiswa dan masyarakat sipil harus dilindungi agar dapat menyampaikan aspirasi dengan aman. Papua membutuhkan demokrasi yang sehat, bukan demokrasi yang dipaksa.
Papua kuat karena rakyatnya bersatu. Papua maju karena menolak kekerasan. Papua bersama Indonesia karena damai adalah pilihan.





